Memahami Digital Certificates
Posted by danangdwidarmawan in Teknologi Informasi on July 29th, 2010
Digital Certificate merupakan file elektronik yang membrikan identitas bagi sumber daya yang berada pada jaringan seperti internet. Secara mudah, Digital Certificate dapat dianalogikan seperti KTP atau passport sebagai tanda pengenal kita. Sertifikat ini diterbitkan oleh Certification Authority (CA). CA bertugas memvalidasi identitas pemohon sertifikat.
Standar sertifikat pada umumnya berisi informasi mengenai :
- Informasi identitas pemengang Digital Certificate
- Serial number
- Nama CA
- Validity
- Fingerprint
Digital Certificate menggunakan prinsip asymetric key encryption. Dalam asymetric key encryption terdapat public key dan private key yang dinyatakan sebagai suatu pasangan kunci yang memiliki hubungan matematis. Kedua jenis kunci dapat melakukan fungsi enkripsi, akan tetapi fungsi dekripsi hanya dapat dilakukan oleh kunci pasanganya. Misal, jika enkripsi dilakukan oleh public key, maka dekripsi hanya dapat dilakukan menggunakan private key, begitu juga sebaliknya. Public key bersifat terbuka, yaitu dapat diketahui banyak pengguna, sedangkan private key hanya dimiliki oleh pemegang kunci.
Bagaimana Digital Certificates digunakan pada transaksi SSL
- Ali mengunjungi website yang diproteksi menggunakan SSL(https), browser ali mengirim pesan “Client Hello”
- Webserver merespon ali denganmengirimkan certificate beserta publik key nya
- Browser ali akan memeriksa bahwa certificate yang diterima valid. (Certificate dari CA ini terdapat pada database browser)
- Jika certificate valid maka browser ali akan membuat session key dengan enkripsi private key menggunakan publik key server yang diterima bersamaan dengan certificate
- Server akan mendapatkan private key client dengan melakukan decrypt dengan private key server, yang selanjutnya akan dilakukan komunikasi meggunakan kriptografi simetri
Sandi Blok
Posted by danangdwidarmawan in Deteksi & Koreksi Galat Komunikasi Digital on November 9th, 2009
Sandi blok pada prinsipnya adalah membentuk runtunan data dengan panjang tetap (k) selanjutnya menambahkan sejumlah (n-k) bit sehingga terbentuk codeword sepanjang n yang unik.
Jarak Hamming : banyaknya bit yang tidak sama antara dua codeword.
C1 = 011011, C2 = 110001
Jarak hamming kedua codeword diatasa dapat dinyatakan d(C1,C2) = 3
Bagaiman penambahan bit ini dapat memberikan kemampuan koreksi pada transmisi data digital dapat dijelaskan pada contoh berikut :
misalkan : k =2 dan n=5 maka :
blok data : 00 01 10 11 diubah menjadi 5 bit data
codeword : 00000 00111 11001 11110
Selanjutnya deteksi dapat dilakukan ketika blok diterima berbeda dengan pola bit codeword terkirim misalkan diterima blok codeword 00100 yang bukan merupakan sandi yang sah. Jika kita perhatikan sandi tidak sah diterima hanya diperlukan pengubahan satu bit akan menghasilkan pola bit dari sandi yang sah, yaitu 00000 sedangkan untuk menjadi sandi sah yang lain diperlukan pengubahan 2 bit untuk 00111, 4 bit untuk 11001, dan 3 bit untuk 11110. Dapat kita ambil kesimpulan bahwa sandi diterima adalah 00000 karena memiliki kemungkinan terbesar dibandingkan dengan sandi sah lainya atau memiliki jarak hamming terkecil. Ini adalah kemampuan koreksi galat dengan penambahan bit redundansi.
Pada suatu sandi dengan sandi C1, C2, C3, … Cs dengan S = 2^k, jarak paling kecil dmin pada sandi dinyatakan sebagai :
dmin =min [d(Si,Sj)] i ≠j
jika suatu sandi memenuhi dmin≥2t+1 dengan t bilangan bulat positif maka sandi dapat mengkoreksi galat sejumlah ≤t . Selanjutnya hubungan antar dmin dan t dapat dinyatakan sebagai berikut :
t = floor (dmin-1)/2 ; untuk mengkoreksi galat sejumlah t
t = dmin -1 ; untuk mendeteksi galat sejumlah t
Jika terjadi galat sejumlah dmin maka galat ini hanya mampu merubah satu codeword sah menjadi codeword sah yang lain, sementara ketika galat terjadi kuran dari dmin maka galat tidak akan merubah codeword sah menjadi codeword sah yang lain.
Beberapa pertimbangan dalam merancang sandi blok antara lain :
- untuk n dan k, maka diharapakan dmin terbesar yang mungkin
- harus mudah dalam penyandianya, tidak membutuhkan memori dan waktu proses yang banyak
- redundan bit sedikit, hemat bandwidth
- redundan bit banyak, mengurangi laju galat
Desibel …
Posted by danangdwidarmawan in Komunikasi Nirkabel on November 9th, 2009
Desibel adalah satuan yang seringkali digunakan dalam menyatakan perbedaan relatif kekuatan sinyal. Desibel dinyatakan sebagai logaritmik basis 10 yang merupakan rasio dari dua sinyal.
dB = 10 x Log10 (P1/P2)
Dengan :
Log10 adalah logaritmik basis 10
P1 dan P2 adalah daya sinyal yang dibandingkan
Selain daya, amplitudo sinyal juga dapat dinyatakan dalam dB.
dB = 20 x Log10 (V1/V2)
dengan V1 dan V2 adalah amplitudo sinyal yang dibandingkan
1 decibel (dB) = 10 * Log10(P1/P2)
beberapa pernyataan desibel yang sering dipakai dalam sistem telekomunikasi antara lain :
dBm = dB milliwatt = 10 x Log10 (Power in mW / 1 mW)
dBW = dB Watt = 10 x Log10 (Power in W / 1 W)
dari berbagai sumber
Membuat Kontrol pada GUI MATLAB aktif atau non-aktif
Posted by danangdwidarmawan in Belajar Matlab on July 21st, 2009
dari kemaren bingung cari fungsi ini eh dapet juga dari HELP nya MATLAB :: HELP emang mantab,,harus telaten aj nyarinya…
pada dasarnya contoh berikut menggunakan fungsi untuk merubah properti uicontrol pada matlab GUI :
pada tutorial matlab ini mula-mula kita bikin tampilan sebagai berikut ada GUI editor :
komponenya terdiri dari :
1.button group berisi 3 radio button : button group menyebabkan hanya salah satu dari ketiga radio button bernilai satu
2.edit text

tampilan
selanjutnya pada GUI editor klik kanan pada button group >>viewcallback >>SelectionChangeFcn
ini membuat fungsi pemilihan dari ketiga radiobutton dalam button group

ke fungsi seleksi
selanjutnya kita isi fungsi diatas untuk membuat edit text menjadi 3 macam keadaan dalam properti ‘enable’:
0n : dapat diedit
off : tidak dapat diedit berwarna abu-abu
inactive : tidak dapat diedit tetapi tidak abu-abu
fungsinya sebagai berikut :
function uipanel1_SelectionChangeFcn(hObject, eventdata, handles)
% hObject handle to uipanel1 (see GCBO)
% eventdata reserved – to be defined in a future version of MATLAB
% handles structure with handles and user data (see GUIDATA)
%fungsi untuk mengubah properti (enable) ui control
if (hObject == handles.on)
set(handles.edit1, ‘enable’, ‘on’);
elseif (hObject == handles.off)
set(handles.edit1, ‘enable’, ‘off’);
else
set(handles.edit1, ‘enable’, ‘inactive’);
end
kata setelah (handles) adalah nama “Tag” pada properti uicontrol
hasilnya adalah sebagai berikut :

hasil (off)
selamat mencoba dan mengembangkan :::
Pengembangan suatu mode-terkunci (mode-locked), Penguat kelas E untuk RF
Posted by danangdwidarmawan in Telekomunikasi on July 17th, 2009
Oleh : Max Nielsen,
Paul Gan,
Brian LeFevre,
Industrial and Automotive,
Products Group,
AMI Semiconductor
Penguat kelas E dapat diubah menjadi suatu bentuk penguat yang lebih efisien, dengan osilator tuned-input, tuned-output (TITO) yang ditambahi dengan osilator tertala (tuned-oscillator) pada gerbang-gerbangnya. Penguat dengan osilator seperti ini memiliki penambahan daya hingga orde 80%, dan dapat diatala ke frekuensi yang akan dikuatkan. Osilatornya adalah mode-terkunci dengan menambahkan sebuah transistor kedua, yang dibawa ke frekuensi yang akan dikuatkan. Hasil keseluruhan efisiensi penambahan daya adalah pada orde 60%.
Konsep ini telah diverifikasi pada simulasi, untuk MOSFETs yang dibangun dengan AMIS C3(0,35 micron) CMOS, dan beroperasi pada 915 Mhz. Suatu transistor tunggal dengan W/L = 100 um/0.35 um melepaskan 6mW ke suatu beban 50ohm. selanjutnya







Recent Comments